Selasa, 27 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
nettotoappzona.shopnettotoappzona.shop
nettotoappzona.shop - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Gue Nekat Naik Gunung Pertama Kali Tanpa Persiapan...

Gue Nekat Naik Gunung Pertama Kali Tanpa Persiapan Matang

Cerita jujur gue naik gunung pertama kali tanpa persiapan, dan pelajaran berharga yang akhirnya bikin gue kapok sekaligus jatuh cinta.

Gue Nekat Naik Gunung Pertama Kali Tanpa Persiapan Matang

Jujur aja, gue bukan orang yang suka olahraga. Jalan kaki dari parkiran ke mal aja kadang gue ngeluh. Jadi waktu temen gue ngajak naik gunung, reaksi pertama gue ya ketawa. "Lu salah orang, bro," kata gue. Tapi entah kenapa, setelah dibujuk tiga hari berturut-turut dengan janji pemandangan yang katanya "nggak akan lu lupa seumur hidup," gue akhirnya bilang iya. Dan itu keputusan paling nekat yang pernah gue ambil dalam hidup gue.

Persiapan gue? Nol besar. Beneran. Gue cuma bawa jaket jeans, sepatu sneakers putih yang baru gue beli, dan tiga botol air mineral. Tas gue isinya roti sobek dua bungkus sama power bank. Temen gue ngeliatin gue kayak ngeliat orang mau bunuh diri. "Lu serius?" tanyanya. Gue jawab dengan pede, "Santai aja, kan cuma jalan doang."

Baca juga: Nekat Bawa Anak ke Dieng Sebulan, Ini yang Berubah di Rumah

Oh, betapa salahnya gue.

Berangkat Modal Nekat dan Modal Tipis

Kami berangkat jam tiga pagi dari kota kecil tempat gue tinggal. Gunung yang kami tuju bukan gunung terkenal kayak Rinjani atau Semeru — cuma gunung lokal setinggi sekitar 2.000 meter yang katanya cocok buat pemula. "Cocok buat pemula" itu ternyata frasa yang sangat relatif, tergantung siapa yang bilang. Buat temen gue yang tiap minggu lari 10 kilometer, mungkin iya. Buat gue yang napasnya ngos-ngosan cuma naik tangga dua lantai? Nggak sama sekali.

Jalur awalnya masih santai. Masih ada warung, masih ada sinyal, masih ada jalan setapak yang lebar. Gue sempat mikir, "Oh gini doang ternyata." Gue bahkan sempat bikin video sambil jalan dan ngomong ke kamera kalau ini gampang. Bego banget, sumpah. Karena sejam kemudian, jalur mulai menanjak tajam, akar-akar pohon jadi tangga alami, dan udara mulai tipis.

Napas gue mulai nggak karuan. Sepatu putih gue udah berubah jadi coklat. Jaket jeans gue basah kuyup. Dan roti sobek yang gue bawa? Udah penyok-penyok di dalam tas karena gue terlalu banyak bawa barang yang nggak perlu. Sementara temen gue, dengan perlengkapan lengkap dan langkah ringannya, udah jauh di depan sambil sesekali balik badan dan bilang, "Ayo, dikit lagi!"

Dikit lagi. Dua kata yang paling sering gue dengar sepanjang pendakian, dan dua kata yang paling gue benci saat itu.

Pelajaran Pertama: Alam Nggak Peduli Lu Siap atau Nggak

Di kilometer ketiga, gue mulai sadar sesuatu. Gunung ini nggak peduli gue udah bawa air berapa, nggak peduli gue udah pernah naik gunung atau belum, nggak peduli gue udah bikin video sombong di awal. Kalau jalurnya menanjak, ya gue harus naik. Nggak ada tombol skip, nggak ada jalan pintas, nggak ada ojek online yang bisa gue pesan buat anterin gue ke puncak.

"Gunung itu guru paling jujur. Dia nggak akan muji lu kalau lu belum sampai, dan dia nggak akan ngasih lu jalan gampang cuma karena lu nangis."

Gue sempat berhenti di tengah jalur, duduk di batu, dan mikir serius apakah gue mau lanjut atau turun. Ada rasa malu kalau turun, tapi ada juga rasa capek yang beneran di luar batas kemampuan gue. Temen gue akhirnya balik nyamperin, duduk di sebelah gue, dan ngasih gue air minum dari tumbler-nya. Dia nggak ngomong banyak. Cuma bilang, "Istirahatin. Nggak usah buru-buru. Gunungnya nggak akan kemana-mana."

Kalimat itu sederhana banget, tapi entah kenapa ngena. Gue selama ini selalu buru-buru. Buru-buru nyampe, buru-buru pengen keliatan keren, buru-buru pengen ngejar temen gue yang jelas-jelas lebih kuat. Padahal di gunung, nggak ada gunanya buru-buru kalau nanti gue tumbang di tengah jalan.

Momen Paling Goblok dan Paling Berkesan

Ada satu kejadian yang sampe sekarang bikin gue ketawa kalau diinget. Di kilometer keempat, gue mulai merasa kedinginan. Jaket jeans gue ternyata nggak nahan angin sama sekali. Gue ngegigil kayak orang lagi demam. Untung temen gue bawa jaket cadangan — jaket gunung beneran yang bisa nahan angin dan dingin. Gue pakai jaket itu, dan langsung kerasa bedanya. Gue nanya, "Kenapa lu nggak dari tadi ngasih gue ini?" Dia jawab sambil nyengir, "Biar lu belajar."

Jahat? Iya. Tapi bener. Karena sekarang gue tau, kalau naik gunung, jaket jeans itu cuma buat gaya-gayaan di foto. Nggak ada fungsinya. Sama kayak sepatu sneakers putih gue yang sekarang udah jadi sepatu coklat selamanya. Pelajaran kedua: perlengkapan itu bukan buat pamer, tapi buat keselamatan.

Puncaknya sendiri... jujur gue nggak bisa ngomong banyak. Bukan karena terharu, tapi karena gue udah nggak punya tenaga buat ngomong. Gue cuma duduk, ngeliat pemandangan di bawah, dan diam. Ada awan di bawah kami. Beneran, awan. Kayak kapas yang bergerak pelan. Dan di momen itu, capek gue selama lima jam terakhir entah kenapa jadi nggak penting lagi.

Yang Gue Bawa Pulang Selain Sepatu yang Rusak

Turun gunung ternyata nggak kalah susahnya. Lutut gue gemeteran, dan gue sempat kepleset dua kali. Tapi anehnya, gue ngerasa seneng. Bukan seneng karena udah selesai, tapi seneng karena gue tau gue baru aja ngelewatin sesuatu yang tadinya gue kira nggak mungkin.

Beberapa hal yang gue bawa pulang dari pendakian pertama gue, dan mungkin berguna buat kamu yang baru mau coba:

  • Jangan sombong di awal jalur. Jalur yang datar di awal bukan berarti gampang sampai atas. Gunung selalu punya kejutan.
  • Bawa perlengkapan yang beneran, bukan yang keren. Jaket gunung, sepatu yang sesuai medan, dan air yang cukup itu wajib. Bukan saran.
  • Jangan malu berhenti. Istirahat itu bagian dari perjalanan, bukan tanda kelemahan. Yang penting sampai, bukan siapa yang paling cepat.
  • Cari teman yang sabar. Teman yang nggak ninggalin kamu di belakang dan nggak bikin kamu ngerasa lambat itu emas. Jangan diremehin.
  • Jangan bikin video sombong di awal jalur. Ini serius. Semesta punya selera humor yang aneh.

Gue nggak bilang pendakian ini bikin gue jadi pendaki sejati. Nggak. Gue masih pemula, masih sering salah bawa barang, masih suka ngos-ngosan. Tapi sekarang gue ngerti kenapa orang-orang rela bangun jam dua pagi, jalan berjam-jam, dan pulang dengan badan pegel semua. Karena di gunung, kamu belajar hal yang nggak bisa diajarin di tempat lain: sabar, jujur sama kemampuan sendiri, dan nggak memaksakan diri cuma biar keliatan keren.

Kalau kamu pemula yang lagi mikir mau naik gunung pertama kali, saran gue cuma satu: pergi, tapi bener-bener siapin diri. Nggak usah nekat kayak gue. Tapi kalau pun nekat, setidaknya bawa jaket yang beneran, ya. Sepatu putih gue udah jadi korban. Jangan sampe kamu juga.

Tags: pendakian pemula gunung Indonesia cerita perjalanan tips naik gunung pengalaman pribadi